Tuesday, June 22, 2010

Corat-Coret Cinta

Kurasakan aku semakin lelah terjerat lingkaran arus sirkus sandiwara ini. Keadaan ini telah mempengaruhi keseluruhan jiwaku. Membuat jati diri dan kebenaran tak nampak dalam diriku............

Lebih baik aku tertidur dan bermimpi seolah-olah ini tak terjadi. Agar aku tak merasakan kekecewaan dan patah hati. Tapi cinta telah membangunkanku, dari mimpi-mimpiku. Ia membangunkanku dengan suaranya yang lembut. Ia juga bertutur betapa ia senang dan bangga jika aku bersemangat dalam kehidupanku.

Cinta itu yang kutemukan dalam dirimu. Cinta itu yang membuatku tak buta, karena cinta memang tidak buta. Cinta yang mampu memancarkan cahayanya menembus mega mendung jiwa hingga tempiaskan sinarnya di leladangan hatiku.

Meski hembusan cinta yang ku tiupkan bertepuk sebelah tangan, aku berterima kasih padamu. Karena hadirmu yang sekelebat dalam hidupku telah leburkan gunung es hatiku dalam samudera kehangatan kasih dan sayang.
(@my facebook notes)

Thursday, June 17, 2010

Hari Kebebasan Ganja

BELANDA  atau lebih dikenal dengan nama Netherland memang tenar dengan kebebasan ngganja. Di negara dengan luasan sekitar 41,625 Km persegi dengan penduduk sekitar 16 ribu jiwa ini, ganja lebih bebas dihisap dan dijual belikan dibanding negara-negara Eropa lain. Namun kebebasan yang sudah ada itu dipandang belum cukup bagi penduduk setempat.


Pada 8 Mei lalu, komunitas ganja di Belanda merayakan hari kebebasan ganja (Cannabis Beverijdingdag) di taman Westerpark, bagian paling luar kota Amsterdam, Belanda. Seluruh pengguna, penghobi dan simpatisan pada kebebasan ganja diundang pada pesta terbuka yang berisi berbagai testimoni di panggung utama, pertunjukan musik, dan berbagai stand yang menyediakan makanan olahan ganja, serta tester berbagai jenis ganja untuk dihisap. Terlihat warga Belanda berbagai usia bebas menghisap ganja tanpa ada satupun polisi yang terlihat mengawasi lapangan rumput terbuka itu.
 ” Kami ingin menunjukkan pada warga bahwa kami juga manusia yang normal,” kata Derrick Bergman juru bicara setempat . Ia mengungkapkan, sejak dua tahun terakhir 8 Mei selalu diperingati sebagai hari kebebasan ganja.Saat itu sejumlah pembicara menyampaikan pesan untuk memilih partai mana saja yang pro dengan mereka.
Menurut Derrick, kebebasan yang diperoleh saat ini hanyalah sebagian saja. Pemerintah hanya mengeluarkan ijin bagi 600 pengusaha untuk mengelola coffee shop dengan kepemilikan maksimal 500 gram setiap coffee shop. Warga biasa dibolehkan memiliki maksimal lima batang pohon ganja di dalam rumahnya. Dan ijin untuk mendirikan coffee shop tak bisa diwariskan pada pihak lain.
”Karena resesi pemilik coffee shop banyak yang bangkrut dan menutup coffee shop mereka. Dari 600 coffee shop sudah berkurang hingga 200 tempat dan terbanyak berada di Amsterdam,” beber Derrick. Kini mereka berjuang agar aturan ganja bisa dibebaskan dengan penuh, menyusul beberapa jenis tumbuhan lain seperti opium dan heroin yang juga masuk dalam daftar perjuangan mereka.
Lokasi coffee shop sangat mudah dijumpai. Setiap kedai selalu bernama coffee shop dengan jelas. Ornamen daun ganja pun sudah terlihat disetiap etalase kaca. Harga yang ditawarkan memang relatif cukup mahal jika dibandingkan dengan harga minuman ber alkohol yang pada beberapa merk harganya bisa lebih murah dibanding harga setengah liter air mineral. Butiran biji ganja berbagai jenis di tawarkan mulai harga 6 Euro hingga puluhan Euro, atau minimal sekitar Rp 66.000 per porsinya. Pembeli bisa menghisap ganja sepuas mereka di dalam coffee shop atau bisa membawa pulang dengan berat tak lebih dari 5 gram. (*)

Mall  Isi  Barang Bekas
WARGA  Belanda punya cara yang cukup unik dan berbeda untuk berhemat. Mereka tak segan berbelanja dan memborong barang bekas pakai milik tetangga mereka lainnya di pusat penjualan barang bekas yang didesain layaknya mall di Malang. Tradisi jual beli barang bekas pun menjadi tradisi nasional yang dibarengkan dengan perayaan hari besar negara mereka, konniginendag atau hari Ratu (Queens Day).

Pasar bekas sering disebut dengan Kringloop, proyek yang awalnya menyasar kelompok pelajar dan mahasiswa yang berbujet minim. Namun sejak krisis ekonomi terus menghantam Eropa, berbelanja di Kringloop seolah menjadi gaya hidup yang semakin populer selama tiga tahun terakhir. Salah satu Kringloop yang cukup besar, dekringlooper mengaku memiliki hingga 150 pekerja di setiap tokonya.
”Kami buka di empat kota, Wesp, Naarden, Hilversum dan Huizen,” kata Nanda Termaat, supervisor dekringloop Naarden, kepada Malang Post.
Jangan dibayangkan pasar bekas ini akan seperti di wilayah Boldy ataupun Comboran. Gedung Kringloop selalu lebih dari satu lantai. Barang yang dijual bervariasi mulai dari furniture, elektronik, berbagai perkakas pertukangan, peralatan dapur hingga baju, sepatu dan produk fashion lainnya.
Misalnya, harga seperangkat sofa kulit di label dengan harga super miring, yakni 16 Euro atau sekitar Rp 160000. Namun, tentu saja pembeli harus cermat memilih, belum tentu barang yang terlihat oke itu ternyata rusak seketika ketika dipakai.
”Seluruh barang kami jual murah karena barang-barang ini berasal dari sumbangan warga sendiri. Kadang mereka mengantar kesini kadang kami yang mengambil,” lanjut Termaat. Perbandingannya bisa 1:10 dari harga umum dengan harga Kringloop
Untuk menemukan mall sejenis dekringlooper, pembeli tak akan menemui kesulitan. Setiap toko Kringloop pasti memiliki simbol melingkar dan berwarna hijau, seperti dekringlooper dengan simbol jempol didalam pita hijau yang melingkar. Termaat menyebut ada ratusan Kringloop dari puluhan pengelola yang ada di seluruh Belanda.
Bahkan jika berada di Belanda pada 30 April, yaitu hari besar Ratu Belanda, queens day, seluruh kota di Belanda akan sibuk mengadakan bazar barang bekas untuk merayakan queens day. Jika di Malang,Hari Kemerdekaan  RI selalu diisi dengan menggelar tikar untuk berbagi dan selametan (bari’an) di negeri Oranye ini warganya sibuk menggelar barang bekas mereka untuk jualan layaknya. Kota Amsterdam, Baren, Hilversum dan Bussum terkenal dibanding barang bekas kota lain. Sebab di kota ini dikenal sebagai kota elit tempat warga berada tinggal. (*)

TRANSPORTASI DI BELANDA:
-    Rata-rata biaya transportasi antar kota Belanda antara 2 Euro hingga 14 Euro ( Rp 22.000 hingga Rp 144.000 dengan kurs Rp 11000 per 1 Euro).
-    Bis dan kereta jauh lebih murah dibanding naik taksi dengan jadwal tetap dan tepat waktu.
-    Lebih hemat berjalan kaki atau naik sepeda angin untuk jarak dekat.
-    Biaya sewa sepeda angin sehari sekitar 5 Euro
-    Biaya menginap per malam sekitar 50 Euro hingga 80 Euro
-    Makan lebih murah di kantin universitas dengan harga rata-rata 3 Euro sekali makan

(@Malang Pos)

Monday, June 14, 2010

Hikayat Al-Mustafa (Bagian Keempatbelas)

  Dengan amat perlahan, Al-Mustafa beringsut ke makam ibunya di kala malam mulai beranjak tua. Ia bersimpuh di bawah pohon cedar yang merindang di sisinya. Tiba-tiba semburat cahaya berpijar di cakrawala sehingga taman itu laksana bermandikan sinar yang menyerupai permata kemilau di atas perut bumi. Dalam kesendirian jiwanya, Al-Mustafa merintih dan mengisak. "Beban hebat adalah jiwaku yang bergantung bersama bebuahan," gumamnya. "Siapakah yang akan tiba untuk memetiknya hingga ia terpuaskan oleh saripatinya? Apakah tak ada lagi manusia yang berpuas, luhur budinya serta cemerlang hatinya yang akan berkunjung untuk berbuka puasa di kala pemasrahan panen pertamaku kepada mentari yang akan sanggup mengikis beban hebatku ini?
  Jiwaku bergelimangkan anggur masa lalu. Apakah tak ada lagi manusia yang akan mendatangiku dan mereguknya sampai habis? Cermatilah lelaki yang menengadahkan tangannya kepada orang-orang yang lalu lalang sedangkan telapaknya sarat dengan intan berlian di sana, yang mematung di perempatan jalanan. Suaranya berkumandang menyebut orang-orang itu dengan nada penuh pengharapan : 'Kasihanilah aku, Tuan, ambillah semua ini. Tolong renggutlah ini semua dan berilah daku penghiburan.'
  Tak ada satu pun yang rela menjamah sesuatu pun dari tapak tangannya. Mereka hanya memandangnya sekilas. Sungguh akan lebih baik bila ia menjadi pengemis yang menengadahkan tangannya untuk menerima suatu pemberian dari orang-orang yang berlalu lalang, kendati ia akan gemetaran lantaran tidak mendapatkan apapun untuk dibawa pulang ke rumah hatinya, dibandingkan menyodorkan tangannya yang sarat dengan beragam hadiah tetapi  tak akan ada yang sudi menerimanya. Lihatlah seorang pangeran yang penuh belas kasihan yang sangat baik hati yang memancang tenda suteranya di antara pegunungan dan geraian pasir membentang. Diperintahnya para pelayan untuk menciptakan api sebagai isyarat bagi orang-orang asing dan para pengelana. Dititahkannya kepada para budak untuk mencermati jalan-jalan agar menyambut tamu-tamu yang akan mampir. Namun lantaran jalan-jalan di gurun pasir itu sangatlah sepi, maka mereka tak menemukan siapa pun.
  Sebaiknya pangeran itu menjadi rakyat jelata yang mencari makanan dan tempat perlindungan.Akan lebih berharga bila dia menjadi seorang pengelana yang tak berbekal apapun kecuali tongkat dan periuk tanah. Dia akan bersua dengan kawan-kawan sepertinya serta penyair-penyair yang akan berbagi warta tentang kemiskinan, pengalaman dan cita-cita mereka di kala malam telah merangkak ke jantung angkasa.
  Sementara di sebelah sana, tataplah kuat-kuat, ada seorang putri seorang raja yang perkasa yang senatiasa mengenakan gaun sutera, rangakaian mutiara dan batu-batu permata serta mengusapi rambutnya dengan minyak kesturi dan memandikan jari-jarinya dengan cairan kuning kencana di kala akan tidur. Dia menuruni anak-anak tangga istana yang menjulang ke angkasa, melangkah damai menuju sebuah taman sehingga embun malam berhasil menjilati alas kakinya yang kemilau keemasan.
  Puteri raja yang agung itu menelisiki cinta di taman dalam keheningan malam. Di dalam kerajaannya yang sangat luas, tak ada seorangpun yang bisa dijadikannya seorang kekasih. Maka akan lebih menyenangkan baginya bila dia menjadi anak seorang pengolah ladang, yang melepaskan ternak-ternaknya ke padang rumput dan menggiring pulang di kala senja ke rumah ayahnya dengan debu-debu jalanan yang menyelimuti tapak-tapak kakinya serta hanyalah bauan anggur yang mengolesi bajunya. Tetapi ketika matahari bersembunyi di balik gemawan mega cakrawala serta malaikat-malaikat malam melanglangi permukaan dunia, dia akan bersijingkat diam-diam nan lamat-lamat menuruni lembah di bibir sungai di mana sang kekasih tengah menantinya.
  Sungguh akan lebih jauh membahagiakan baginya menjadi seorang biarawati yang membakar hatinya sebagaimana dibakarnya dupa-dupa agar dapat melayang ke angkasa sehingga jiwanya menjadi kecapaian. Atau pula sebagaimana lilin yang semburat cahayanya menjulang ke arah cahaya yang lebih kudus, bersetubuh dengan mereka yang memuja dan mencintai serta dicintainya. Akan menjadikannya lebih bersahaja untuk menjadi seorang wanita tua yang berkubang dalam kehangatan kilat cahaya mataharisambil mencoba menghadirkan kembali kenangan-kenangan tentang seorang lelaki yang telah memberinya dongeng masa belia."
  Malam kian tua. Al-Mustafa kian berkubang dalam gulita malam yang pekat. Wujud jiwanya menghampiri gumpalan awan. Dia kembali meratap.
  "Beban berat adalah jiwaku yang matang mengiringi ranumnya bebuahan. Masih adakah kini manusia yang sudi memetiknya untuk memakannya sampai ia terpuaskan oleh saripatinya?
  Jiwaku mengalir bersama tumpahnya anggur. Masih adakah kini manusia yang rela untuk menuangkannya dan mereguknya agar menjadi pembunuh tikaman panas gurun pasir?
  Tentu lebih aku bila aku menjelma sebatang pohon yang kerontang yang tak mengerami kembang dan buah, lantaran gelimang nestapa jauh lebih menggetirkan daripada hidup yang mandul. Serta lebig mengiris daripada kesengsaraan orang kaya yang tak ada seorang manusia pun yang rela menerima kekayaannya dibandingkan kedukaan para pengemis yang tak didermai oleh siapa pun.
  Lebih mulia aku menjadi sumur kering kerontang yang dilempari bebatuan oleh banyak orang dibandingkan sebuah sumber air kehidupan yang cuma dilewati manusia tanpa pernah meresapi kenestapaannya, karena semua kenyataan itu akan jauh lebih gampang untuk dilahirkan.
  Lebih menyenangkan bila aku menjelma ilalang yang terhempas oleh jejakan kaki-kaki dibandingkan menjadi harpa berdawai perak yang bersemayam di dalam sebuah rumah yang dimiliki oleh orang yang tak memiliki jari-jari dengan anak-anaknya yang tuli.
(Kahlil Gibran)

Saturday, June 5, 2010

Berkunjung ke Kingdom of Butterfly

  Ingin melihat kecantikan aneka warna dan spesies kupu-kupu terbang bebas ? Datanglah ke Bantimurung di Kabupaten Maros Provinsi Sulawesi Selatan. Wilayah yang terletak sekitar 50 kilometer dari Kota Makasar atau 15 kilometer dari Kota Maros ini sangat cocok dijadikan tujuan wisata jika anda berkunjung ke Makassar. Inilah kisah yang ditulis kontributor Malang Post Diana Permana * saat berkunjung ke Bantimurung beberapa waktu lalu.

   Kawasan yang bisa ditempuh satu jam dari Makassar ini, merupakan kawasan wisata yang sangat cocok untuk berlibur bersama keluarga. Begitu memasuki Bantimurung, kita akan disambut gerbang miniatur kupu-kupu raksasa serta patung kera.
   Untuk memasuki area Bantimurung, Anda cukup membayar tiket masuk seharga Rp 5000 untuk dewasa dan Rp 4000 untuk anak-anak. Dengan harga itu kita bisa menikmati berbagai fasilitas yang ada. Seperti air terjun, museum kupu-kupu, danau dan goa-goa.
   Kawasan yang memiliki luasnya sekitar 24 hektare ini, selain dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi, juga terbuka akses untuk angkutan umum atau yang di sana disebut pete pete melalui kota Maros atau dapat di carter menuju lokasi obyek.
   Saat saya datang ke Desa Bantimurung, kesana pertama yang tertangkap adalah udara segar, petakan-petakan sawah yang indah berbatas langit, tebing-tebing curam yang terjal, hijaunya pegunungan yang elok, kupu-kupu yang beraneka ragam hingga air terjun dan goa-goa yang merupakan daya tarik utama pesona keindahan alam desa Bantimurung.
   Bagi yang terbiasa hidup di kota besar yang sesak, mengunjungi Bantimurung seperti menyembuhkan batin yang sedang murung.
   Orang Belanda yang sering datang ke Bantimurung memberikan julukan desa itu sebagai Kingdom of Butterfly. Karena dulunya Bantimurung adalah surga bagi ratusan spesies kupu-kupu bahkan dari spesies serangga langka sekalipun. Sayangnya menurut laporan terakhir, spesies kupu-kupu di Bantimurung berkurang secara signifikan setiap tahunnya.
   Penyebabnya bermacam-macam. Selain karena perburuan liar yang dilakukan warga sekitar demi memuaskan mata pengunjung dan menangguk rupiah dari setiap ekor kupu-kupu yang mereka awetkan, juga tentu saja karena terjadinya perubahan ekosistem pada habitat asli kupu-kupu itu.
Tingkat pencemaran udara yang terus meningkat tentu saja ikut berpengaruh pada menurunnya jumlah kupu-kupu di Bantimurung. Apalagi kupu-kupu adalah binatang yang sangat peka terhadap perubahan udara.
   Sesungguhnya, hati berasa miris melihat pedagang menangkapi kupu kupu kemudian mengawetkannya dan memamerkannya dalam bentuk gantungan kunci ataupun hiasan dinding dengan harga berkisar Rp 5000 –Rp 25 Ribu.
   Saat kita berkeliling, bisa menikmati aneka kupu-kupu terbang bebas dan binatang kera jenis Maccala Maura yang sudah langkah dan terkadang muncul secara tiba-tiba di area danau Toakala. Di museum istana kupu-kupu, kita juga bisa melihat proses penangkarannya. Di museum kupu-kupu terdapat kurang lebih 200 spesies kupu-kupu. Di antaranya spesies Papillo Androcles yang tergolong langka, Troides hypolitus, Troides helena, Troides halipron, Papilio adamanthis dan Chetosia myrana.(*)

(Malang-Post.com)

Hikayat Al-Mustafa (Bagian Ketigabelas)

  Seorang pembantu kuil menghadap Al-Mustafa sambil memohon, "Guru, ajarkanlah padaku agar semua ucapanku menyerupai kata-katamu, menjadi nyanyian agung yang sewangi parfum dalam indera kami semua."
  Dengan kata-katanya yang penuh kasih Al-Mustafa menjawab, "Kalian harus melampaui kata-kata. Kendati jarak perjalanan kalian menyimpan tembang dan wangi parfum : tembang bagi para pecinta dan kekasihnya serta wangi parfum bagi siapapun yang menghuni taman-taman. Dankalian harus melampaui kata-kata dengan mendaki puncaknya dimana debu-debu bintang gugur bertebaran dan kalian menengadahkan telapak tangan kalian sampai penuh terisi, sebelum akhirnya kalian merebahkan jasad-jasad kalian dan lelap tertidur sebagaimana anak burung yang bulunya putih cemerlang di sebuah sarang putih. Kalian memimpikan masa depan seperti sekuncup bunga yang mengharapkan musim semi.
  Segala kata-kata harus kalian gali kembali sampai jauh lebih dalam. Hingga kalian menemukan kembali sumber air sungai yang hilang, di mana kalian bisa menjadi gua yang tersimpan rapat yang mengumandangkan irama yang lamat-lamat dari balik liangnya yang tak bisa kalian tangkap lagi sekarang. Kalian pun mesti menggali lebih dalam lagi daripada kata-kata, lebih dalam daripada semua suara mengaung, hingga membelah rongga dada bumi. Di situlah kalian akan mampu melebur bersama Dia yang menapaki hamparan galaksi Bimasakti."
  Seorang muridnya yang lain sekilas bertanya, "Guru, jelaskan pada kami apa yang dimaksud dengan wujud? Bagaimanakah wujud itu?"
  Sambil bangkit perlahan setelah mencermati roman muridnya sekilas, Al-Mustafa melangkah agak jauh dari mereka, sebelum kemudian kembali lagi sambil bersuara, "Ayah dan ibuku bersemayam di taman ini, dikuburkan oleh jari jemari kehidupan. Di taman ini jugalah tertanam benih-benih yang ditebarkan oleh kepak-kepak sayap angin. Seribu kali ayah dan ibuku dikuburkuan di sini maka seribu kali jugalah kepak-kepak sayap angin menaburkan benih-benih di sini. Lantas seribu tahun yang akan datang, kalian, aku dan kembang-kembang itu akan melebur kembali di taman ini sebagaimana yang kini kita jalani. Kita akan selalu hidup untuk merindukan kehidupan dan kita akan senantiasa hidup untuk menghasratkan cakrawala serta kita akan serta merta menggeliat untuk menjamah matahari.
  Kini menjadi wujud adalah menjadi bijak tanpa menjadi asing di antara orang-orang bodoh. Kita menjadi gagah perkasa tanpa menghancurkan orang-orang lemah. Walaupun kita bukanlah ayah, namun kita bebas bermain bersama anak-anak sebagai teman sepermainan yang juga tekun mempelajari permainan-permainan mereka. Menjadi wujud adalah menjadi sederhana, jujur kepada orang tua dan bersanding mesra bersama mereka di bawah rindang pepohonan tua yang teduh sekalipun engkau sendiri masih saja mengagumi kemolekan musim semi. Menjadi wujud seperti halnya mencari seorang pujangga yang barangkali bersemayam di balik tujuh sungai, di mana kedamaian akan merekah bersama keberadaannya. Jangan menghasratkan sesuatu atau was-was ataupun memuntahkan satu persoalan pun dari pematang bibirmu.
  Menjadi wujud adalah menyadari betapa orang-orang suci dan berdosa adalah saudara kembar yang sama-sama berayahkan Raja Agung. Lantaran yang seorang dilahirkan beberapa kilas sebelum yang seorang lainnya dilahirkan, maka kita kemudian menjulukinya Putera Mahkota. Menjadi wujud dituntut untuk menapaki jejak-jejak keindahan sekalipun sedang menggiringmu ke bibir jurang. Ikutilah Dia, kendati harus melalui bibir jurang, sekalipun dia memiliki sayap dan engkau tidak memilikinya, karena semua hal akan serta merta kosong nan hampa manakala Keindahan tidak lagi bertahta.
  Menjadi wujud mesti tabah dijarah, didusta, dinista, disesatkan, diperdayai, sebelum kemudian dilecehkan. Kalian akan bisa menatap ke bawah dari balik ketinggian senyumanmu yang kudus hanya melalui semua itu. Kalian akan menyadari betapa di suatu kelak musim semi akan menghampiri tamanmu untuk berdansa bersama daun-daun, juga musim gugur yang akan mampir untuk mematangkan anggur-anggur kalian. Jika salah satu jendela kalian terkuak tengadah ke arah timur, maka kalian akan mengerti betapa kalian tidak pernah sendiri dalam kesenyapan. Kalian akan memahami betapa semua yang dituduh sebagai penjarah, pendusta dan bajingan senantiasa sebagai saudara di waktu kalian membutuhkan uluran tangannya sekalipun mata penduduk Kota Maya ini akan menyebutmu sebagai bagian dari mereka.
  Sementara bagi kalian yang tangannya karib dengan segala benda yang dihasratkan manusia demi kecemerlangan siang dan kebahagiaan malam. Menjadi wujud adalah menjadi perenda yang mampu melihat melalui jari-jarinya, menjadi pembangun yang menyadari makna cahaya dan ruang, pengolah ladang yang merasakan bagaimana kalian menghindarkan limpahan kekayaan dari setiap bibit yang ditebarkan, nelayan dan pemburu yang menyimpan iba untuk ikan dan buruannya, tetapi masih jauh lebih iba pada manusia yang ditikam kelaparan dan kesengsaraan.
  Kukabarkan pada kalian apa yang terpenting ini : aku akan mewartakan suatu suri teladan untuk menggapai setiap ambisi manusia. Dengan cara itulah kalian bisa berharap untuk menggapai ambisi kalian. Para sahabat dan pelautku yang kusayangi, kalian harus menjadi pemberani dan tak mudah putus asa. Bukalah dirimu dan jangan menyumpalnya samapi tiba saatnya nanti nafas terakhir berkibar. Jadikanlah apa yang lebih mulia sebagai diri kalian."
  Begitu diketahuinya di wajah kesembilan muridnya berkilau rona kegelisahan, sementara hati mereka tak lagi terpatri padanya, lantaran kata-katanya tak kuasa dipahami oleh mereka, maka Al-Mustafa pun menghentikan laju suaranya.
  Ditatapnya tiga pelaut yang sangat menghasratkan samudera luas serta orang-orang yang telah melayani upacara kuil yang merindukan keteduhan tempat kudusnya. Orang-orang yang telah menjadi teman sepermainannya sejak dulu kala tak lagi sabar untuk meleburkan diri dalam keriuhan pasar. Semuanya tuli dan tidak kuasa mencairkan apa yang telah dikumandangkannya. Kata-katapun memantul kembali kepadanya layaknya beburungan yang kehilangan sarang-sarangnya serta telah capai untuk menemukan tempat berlindung. Al-Mustafa pergi menghindari semua yang berkerumun di taman itu. Ia bisu menunduk tanpa memalingkan mata kepada mereka.
  Mereka segera bertanya-tanya dan berupaya menemukan alasan yang akan memungkinkan mereka untuk melangkah pulang. Tapi akhirnya mereka hanya membalikkan badan dan pulang begitu saja ke rumah masing-masing. Kini hanyalah Al-Mustafa, lelaki pilihan dan terkasih, yang berdiam seorang diri.
(Kahlil Gibran)

Thursday, June 3, 2010

Hikayat Al-Mustafa (Bagian Keduabelas)

  Ketika sang surya mulai merangkak tinggi di suatu pagi, salah seorang murid yang dikala kanak acapkali bermain dengannya mendekatinya sambil berkata, "Pakaianku telah usang dan robek, Guru, dan aku tak juga memiliki pakaian yang lainnya. Aku ingin engkau mengijinkanku pergi ke pasar untuk memperoleh pakaian yang mungkin bisa kudapatkan."
  Sambil menatapi lelaki muda itu, Al-Mustafa menimpali, "Kemarikan pakaianmu untukku." Lelaki muda itu pun melakukan yang diperintahkan sang Guru hingga ia berdiri bugil.
  Dengan nada yang berderapan seperti kuda, Al-Mustafa berkata lagi, "Hanya orang yang telanjang yang bisa mencapai matahari. Hanya yang sentosa yang sanggup menyisiri angin. Hanya yang pernah tersesat ribuan kalilah yang berhak mendapatkan sambutan hangat dalam kepulangannya. Ketahuilah, para malaikat sudah sangat jemu dan kesal atas tingkah laku manusia. Sosok malaikat berbisik kepadaku : 'Telah kami ciptakan neraka buat mereka yang bermewahan. Adakah mereka yang sanggup menghancurkan permukaan yang berkemilau kemudian melelehkannya sampai tampak saripatinya kecuali api?"
  'Tetapi ketika engkau ciptakan neraka, engkau ciptakan pula setan dan iblis yang menguasai neraka,' kataku menyahut.
  'Tidak, neraka hanya dikuasai oleh mereka yang tidak takluk pada gelegak api,' sergah malaikat itu.
  Dialah malaikat yang bijak! Mengetahui perbedaan segala cara yang ditempuh manusia yang sejati dengan manusia yang setengah-setengah. Dialah yang membisikkan kebenaran yang akan tampil untuk menyelamatkan nabi-nabi dikala mereka dirayu kenistaan. Itulah sebabnya mereka juga tersenyum sewaktu nabi-nabi tersenyum dan turut mengalirkan airmata ketika nabi-nabi ditelan rengsa.
  Para sahabta dan pelautku, hanyalah yang telanjang yang bisa hidup dibawah terik matahari. hanya yang tanpa layar serta dayung yang sanggup membelah keluasan samudera. Hanya yang jelaga besama malam yang akan bangkit bersama geliat fajar pagi. Serta hanya yang mendengkur lelap bersama akar-akar yang disepuh salju yang bisa mencapai semi. Lantaran kalian menyerupai akar-akar yang sederhanalah kalian menyimpan kebijaksanaan bumi. Sekalipun kalian hanya membisu, tetapi di balik ranting-ranting yang belum terlahirkan kalian sanggup mendengungkan koor angin yang datang dari empat penjuru. Kendati rapuh dan tak berbentuk, kalian laksana tunas sebuah pohon besar yang sangat rindang, janin bagi pohon-pohon yang bersihadap dengan langit.
  Sekali lagi dengarkanlah, kalianlah akar yang menancapi gelapnya rumput-rumput dan langit yang berarak. Kadangkala kujumpai kalian menari bersama gulungan cahaya, walaupun adakalanya kalaian tampak tersipu-sipu malu. Akar-akar apa pun memang selalu malu-malu. Mereka menghunjamkan hatinya sedemikian dalamnya sampai tak lagi mengerti apa yang mesti dijalankan oleh hati mereka sendiri.
  Laksana perawan yang gundah lantaran akan segera menjadi bunda dari bukit-bukit dan lembah-lembah, bulan Mei pun segera menjelang.
(Kahlil Gibran)

Tentang Trance Peterpan

  Musik “trance” masih terasa asing di telinga orang Indonesia, padahal bila mendengar ‘Ariel Peterpan’, langsung terbayang lagu2 yang menghanyutkan, entah itu sendu, romantis, rancak atau bahkan misteri! Terlebih bila kita mendengar suaranya pada lagu “Langit Tak Mendengar”.
  Seperti lagu2 ‘trance’ yang lain, lagu “Langit Tak Mendengar” yang ditulis dan dibawakan sendiri oleh Ariel Peterpan inipun ada pengulangan2 chord sepanjang lagu malah, G F C ! Tantangan menciptakan lagu ‘trance’ justru pada pengulangan2 harmonius itu sendiri, disinilah jiwa melodius Ariel Peterpan diuji. Coba ikuti solmisasi lagu ini, tidak hanya lincah, tetapi juga indah! Ariel mampu seolah mengubah urutan G F C menjadi harmonius penuh misteri! Awal belajar gitar, chord C F G adalah 3 jurus dasar! Karena itu olokan pada pemain gitar tataran ini adalah pendekar 3 jurus! Bagaimana Ariel hanya dengan membalik menjadi G F C saja, telah membuat harmonius menjadi misteri? Keterangan pada lagu di bawah sengaja saya tulis chord do = G, sementara lagu do = C ! Ya, artinya Ariel telah mampu mengungkapkan rasa melodiusnya pada harmoni2 dengan nada dasar yang berbeda! Bila pemula akan mudah tersesat dengan men-solmisasikan lagu ini menjadi 1 1 1 1 1 1 6# 6 5 4, maka kesalahannya bisa dibenarkan dengan chord yang lebih rumit C A# F. Itulah misteri kesulitannya bila lagu ini ingin ditulis dengan nada dasar do = C saja!

lagu do = C
chord do = G (baca posting diatas)
G – - – - – - – - F
5 5 – 5 5 – 5 5 – 4 3 21
jalan hidup telah memilih
C – - – - – - -G
3 3 3 -4 -4 3 -4 -5 27
menurunkan aku ke bumi
G – - – - – - – - F
5 5 -5 -5 -5 -5 – 4 -3 -21
hari berganti dan berganti
C – - – - – - G – - – - F – C – G
3 3 -34 – 4 – 3 4 5 2 7 1
aku diam tak memahami
mengapa hidup begitu sepi
apakah hidup spt ini
mengapa ku selalu sendiri
apakah hidupku tak berarti
Chorus:
F – - – - – - – - -C
4 4 -4 -4 3 – 2 1 -2 3 33
coba bertanya pada manusia
- – - – - – -G
2 -1 7 -1 2 -76
tak ada jawabnya
F – - – - – - – - -C
4 4 -4 -4 3 – 2 1 -2 -3 -3 -3
aku bertanya pada langit pula
- – - – - -C
2 -1 -7 – -1 -2 -7
langit tak mendengar

(ebessoni.wordpress)

Peterpan - Langit Tak Mendengar



Jadi hidup telah memilih
Menurunkan aku ke bumi
Hari berganti dan berganti
Aku diam tak memahami

Mengapa hidup begitu sepi
Apakah hidup seperti ini
Mengapa ku selalu sendiri
Apakah hidupku tak berarti

Coba bertanya pada manusia
Tak ada jawabnya
Aku bertanya pada langit tua
Langit tak mendengar

Tuesday, June 1, 2010

Hijau Daun - Sampai Kau Bicara





Bila saatnya ku temukan indah di hatimu
Berapa lama waktuku harus menunggu
Cahaya matamu menghiasi seluruh hatiku
Andai kau tau dalam lelap kusebut namamu

Reff :
Aku masih menunggumu bicara
Kunanti jawaban di hatimu
Dalam gelap ini dalam diam ini
Kuharap nanti waktu yang akan menemukanmu
Apakah nanti hatimu masihkah milikku

Reff :
Aku masih menunggumu bicara
Ku nanti jawaban di hatimu
Dalam gelap ini dalam diam ini
Ku masih menunggu…
Kumohon dengarkan aku bicara
Kunanti jawaban di hatimu
Adakah diriku di dalam hatimu

Bila saatnya ku temukan indah di hatimu