Sunday, September 19, 2010

10 Cara Berlebaran ala Rasulullah

   Kali ini saya mau sharing tentang cara-cara Rasulullah SAW berlebaran. Walaupun agak telat, tapi karena sekarang kan lagi bulan lebaran jadi gapapa yah!!
  Hari raya dinamakan dengan Id yang berarti berulang dari waktu ke waktu. Setiap umat tertentu memiliki hari raya yang selalu mereka rayakan pada saat-saat tertentu. Demikian juga dengan umat Islam, Allah telah memberikan kepada kita dua hari raya yang selalu kita rayakan tiap tahunnya, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Rasulullah SAW memberikan tuntunan kepada kita bagaimana sebaiknya kita merayakan hari raya untuk mengagungkan kebesaran Allah SWT dan bergembira. Di antaranya : 


  1. Mengumandangkan takbir sejak matahari terbenam pada malam Idul Fitri sampai dilaksanakannya shalat Id, sebagai ungkapan syukur kepada Allah atas nikmat ibadah puasa yang telah kita jalankan selama Ramadhan. Allah berfirman "........agar kalian bertakbir atas apa yang ia tunjukkan kepadamu dan agar kalian bersyukur." (QS. Al-Baqarah : 185).
  2. Disunnahkan mandi lalu memakai pakaian yang bagus dan wangi-wangian sebagai tanda rasa syukur kepada Allah SWT, karena hari itu merupakan hari yang penuh kebahagiaan. Ibnu Qayyim berkata, "Rasulullah memakai pakaian terbagus yang beliau miliki ketika akan pergi melaksanakan shalat Idul Fitri dan Idul Adha, beliau memiliki baju khusus untuk hari raya" (Zadul Ma'ad, 1/425).
  3. Melaksanakan shalat dua rakaat. Ibnu Abbas berkata, "Kami mengikuti shalat Id bersama Rasulullah, Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali semuanya shalat sebelum khutbah..." (HR. Muslim).
  4. Disunnahkan pergi menuju lokasi shalat Id dengan berjalan kaki, karena Rasulullah tidak pernah pergi menuju ke lokasi shalat Id atau shalat jenazah dengan berkendara (Ibnu Majah). Ali bin Abi Thalib berkata, "Disunnahkan mendatangi shalat Id berjalan kaki." (HR. Turmudzi). Turmudzi berkata : hadis ini hasan dan banyak ulama yang mengamalkannya.
  5. Sebaiknya shalat Id dilaksanakan di tanah lapang kecuali jika ada uzur seperti karena hujan. Ibnu Qoyyim berkata, "Rasulullah shalat Id di lokasi shalat (bukan masjid), yaitu lokasi yang berada dekat pintu timur Madinah, tempat ini merupakan tempat para jamaah haji menyimpan barang mereka, beliau belum pernah shalat di masjid kecuali sekali ketika hujan turun" (Zadul Ma'ad 1/425). Imam Syafi'i mensyaratkan pelaksanaan shalat Id di tanah lapang jika masjid sempit sehingga tidak dapat menampung jamaah, namun jika masjid luas, maka pelaksanaan shalat Id di tanah lapang termasuk menyalahi keutamaan, karena para imam selalu shalat Id di Makkah di masjid dan masjid adalah tempat yang paling mulia dan suci (Al-Majmu' 5/6-7).
  6. Kaum wanita dan anak-anak dianjurkan pergi ke tempat dilaksanakannya shalat Id. Baik gadis, orang tua dan wanita yang haid. Bagi wanita yang haid agar agak jauh dari lokasi shalat tetapi tetap ikut mengumandangkan takbir bersama serta berdoa memohon keberkahan dari Allah di hari itu.
  7. Disunnahkan menyantap makanan sebelum pergi shalat Idul Fitri dan menyantap makanan setelah Idul Adha. Dari Buraidah berkata, katanya "Rasulullah tidak pergi untuk shalat Idul Fitri kecuali belaiau menyantap makanan terlebih dahulu dan tidak makan pada hari raya Idul Adha kecuali setelah kembali dari shalat Idul Adha." (HR. Turmudzi).
  8. Disunnahkan pergi dan pulang pada shalat Id melalui jalan yang berbeda. Dari Abu Hurairah, katanya "Rasulullah jika keluar pada hari raya kembali melaui jalan yang berbeda dengan jalan yang dilalui ketika pergi." (HR. Turmudzi).
  9. Khutbah Idul Fitri dan Idul Adha dilakukan setelah shalat dengan dua kali khutbah. Ibnu Ummar berkata "Sesungguhnya Rasulullah, Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali semuanya melaksanakan shalat Id sebelum khutbah." (HR. Bukhari).
  10. Diperbolehkan mengucapkan selamat hari raya. Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Baari : "Kami meriwayatkan dalam Al-Mahamaliyah dengan isnad yang baik dari Jubair bin Nafir : "Para sahabat Rasulullah jika bertemu saling mengucapkan kalimat Taqabbalallahu Minna Waminkum, semoga Allah menerima ibadah kita. (Fathul Baari, 2/575).


  (sumber : Majalah Yatim)

No comments:

Post a Comment