Thursday, April 29, 2010

Hikayat Al-Mustafa (Bagian Pertama)

 
  Al- Mustafa, sang lelaki terkasih, telah pulang ke tanah kelahirannya pada bulan penuh kemenangan, bulan Tichreen, di kala sang surya menikam dengan sangat panas. Perasaan ingin menjenguk tanah kelahirannya sangat bergejolak di hatinya. Ia mematung di atas geladak kapalnya dengan dikitari oleh para awak kapal.
  Suaranya yang berdentang gemuruh membelah gelombang laut : "Lihat tanah kelahiran kita. Disitulah Bumi melahirkan kita, memuncratkan irama-irama dan persoalan-persoalan yang masih sangat misterius. Gemuruhnya mendaki ke angkasa, misterinya menyelusup ke perut Bumi. Apakah ada sesuatu yang sanggup membelah persoalan-persoalan itu jikalau tidak kita sendiri yang melakukannya? Adakah sesuatu itu di antara Langit dan Bumi?
  Laut kembali mengantarkan kita ke tepian pantai. Kita hanyalah serpihan riak di antara gelombangnya. Laut membanting kita semua untuk menegaskan kekuasaannya. Mungkinkah kita melakukannya jikalau kita tidak meleburkan hati kita dengan karang dan pasir?
  Inilah kepastian hukum bagi pelaut dan lautannya. Kalian harus menjelma kabut untuk mencapai kemerdekaan. Sebab semua yang tak memiliki bentuk akan serta-merta mencari bentuknya. Bahkan termasuk kabut yang berkemilau menjelma ribuan matahari dan rembulan. Kita yang telah lelah melakukan pencarian sekarang mesti kembali ke tanah kelahiran ini. Kita harus menjelma kabut dan kembali mengawali dari permulaan untuk menemukan bentuk yang hakiki. Jika tidak meleburkan diri dengan semangat yang bergemuruh dan kebebasan, masih bisakah bagi kita untuk menangguk kehidupan dan kembali memanjatkannya ke puncaknya?
  Kita akan selamanya senantiasa mencari tepian pantai. Agar kita bisa bernyanyi dan nyanyian kita bisa didengarkan. Tetapi gelepar gelombang apakah yang akan meleburkannya jikalau tidak ada lagi liang telinga yang kuasa menyimaknya? Gelegar yang sanggup mengikis duka nestapa kita inilah yang tak akan tersimak dalam detakan jiwa kita. Sekalipun sesungguhnya gelegak gelombang yang tak tersimak itulah yang akan menjadikan jiwa kita menemukan wujudnya dan mengendalikan laju hidup kita.
  Salah seorang pelaut melaju dengan suara, "Engkau telah menuntun kerinduan di hati pada pantai ini, Guru. Tapi lihatlah, Guru, sewaktu kita telah tiba, mengapa engkau justru menyanyikan nada-nada sumbang penderitaan dan kenestapaan hati?"
  Al-Mustafa menukas, "Engkau tidak paham, tidakkah aku mewartakan kemerdekaan dan kabut yang merupakan kebebasan yang paling hakiki? Laksana jiwa manusia yang tergeletak tanpa daya dan menyembah para pelaku yang telah menjadikannya terbunuh, sungguh akan menyedihkan jikalau kuziarahi tanah kelahiranku."
  Pelaut yang lain pun segera menimpali, " Tataplah dengan cermat keriuhan orang-orang di pinggir pantai itu. Mereka telah meramalkan hari kepulanganmu dalam kesunyiannya. Dengan kompak mereka tinggalkan ladang dan kebun anggur hanya untuk sekedar melunasi kerinduan atas kedatanganmu."
  Al-Mustafa Mencermati keriuhan orang-orang di pinggir pantai itu. Hatinya gemuruh oleh kerinduan mereka. Ia sekilas membisu.
  Mendadak menjulanglah pekikan lantang dari keriuhan orang-orang di pinggir pantai itu. Jeritannya terasa sangat menghiba. Sambil menatap para pelaut, ia berteriak, " Apa yang telah kusuguhkan bagi mereka? Akulah pemburu yang jauh dari pengembaraannya. Aku telah menerbangkan anak panah emas yang mereka persembahkan, tetapi aku tak mampu membawa pulang seekor buruan pun. Aku tidak menguntiti anak panah yang melesat jauh itu. Barangkali kini mereka telah mendekati matahari. Membawa bulu rajawali yang penuh luka dan darah serta tak akan pernah kembali lagu ke bumi. atau barangkali seutas anak panah itu telah digenggam oleh tangan-tangan yang tak memperdulikannya kecuali setangkup roti dan seteguk anggur.
  Aku pun tak tahu kemana anak panah itu hengkang. Kecuali yang kutahu adalah sisa bayangan yang melengkung di ufuk langit. Namun begitu, denyut cinta masih mengalun dalam hatiku. Duhai para pelautku, kalian pun masih terus mengarungi lamunanku. Aku tak pernah menutup telinga. Aku akan melengking setinggi langit manakala jari-jari musim sedang mencekik tenggorokanku. Aku akan melafalkan syair-syair manakala bibirku terbakar oleh api."
  Orang-orang gelisah mendengar lengkingan itu. Salah seorang berucap, "Ajarkan semua ilmumu pada kami, Guru. Semoga kami bisa meresapinya. Sebab darahmu mengalir dalam nadi-nadi kami dan aromamu menyatu dengan nafas kami."
  Melalui nada suaranya yang bergemelesir layaknya angin, Al-Mustafa menimpali, "Menjadi guru kalian untuk menunjukkan pada kalian jalan yang menuju tanah kelahiranku? Aku belum kunjung bijaksana. Usiaku terlalu belia, masih terlampau dini untuk menuturkan tentang hal-hal lain di luar kehidupanku sendiri. Masih banyak hal-hal yang mesti kupelajari. Biarkan mereka yang menyimpan kebijakan mencarinya dalam rekahan kembang atau dalam sebongkah tanah merah. Aku adalah seorang penyanyi. Dan aku masih saja mengumandangkan nyanyian bumi. Aku pun tetap melantunkan mimpi-mimpi kalian yang terus melayang-layang antara jaga dan lelap. Aku hanya ingin menatap lautan luas."
  Kapal itu pun merapat ke dermaga dan mencapai pinggir pantai. Dia menjejakkan tapak kakinya di tanah kelahirannya. Dia berdiri dikitari para pengikutnya. Tangis pilu kerinduan menyayat-nyayat memancar dari hati mereka sampai menusuk ufuk sanubarinya.
  Mereka membisu hendak menyimak tuturan yang akan disuarakannya. Tetapi lantaran kesedihan akan kenangan-kenangan silam begitu kukuh bersijingkat di kelambu pikirannya, tak ada secuil kata pun yang terlontarkan. Ia hanya bergumam dalam hati, "Betulkah telah kujanjikan bahwa aku akan menyanyi? Tidak! Sekalipun aku memang sanggup menguak katupan bibirku agar nyanyian kehidupan melantun dan melayang dalam lipatan angin untuk kebahagiaan dan kesenangan mereka."
  Seorang perempuan yang diingatnya sering bermain bersamanya di taman ibunya yang bernama Karima menguraikan suaranya, "Telah kusembunyikan wajahmu dari tatapan kami selama dua belas tahun. Dan selama dua belas tahun itu pulalah kami selalu merasa kelaparan dan kehausan ingin mereguk suaramu."
  Ia menatap Karima dengan pandangan yang diselimuti kemesraan yang begitu membara. Ia ingat, Karima lah yang telah mengatupkan kelopak mata ibunya sewaktu jari-jari indah kematian menyepuh seutas nyawanya.
  Katanya kemudian, "Dua belas tahun. Karima, betulkah kau mengucapkan dua belas tahun itu? Tidak pernah kutakar kerinduanku dengan pengukur yang berjubahkan bebintangan. Aku pun tidak pernah menghitung kedalamannya. Sebab kutahu cinta akan mengantarai perhitungan ruang dan waktu manakala cinta sedang dibaluri rindu. Ada waktu yang mengerami masa perpisahan. Perpisahan bisa bermakna tererosinya pikiran. Sementara barangkali kita tidak akan terpisahkan selamanya."
  Al-Mustafa menatap orang-orang yang membeku bisu di hadapannya, orang-orang yang belia, yang tua berkarat, yang gagah atau yang lemah tak berdaya, yang kulitnya merah lantaran tersepuh tempias angin atau kilatan matahari serta mereka yang parasnya pucat pasi. Pada wajah-wajah itu menyeburat kilau-kilau kerinduan dan rasa penasaran yang amat benderang.
  "Guru, denyut kehidupan kami telah dikangkangi harapan dan ambisi yang terasa sangat menyayat," ujar salah seorang di antara mereka. "Hati kami selalu gelisah tanpa pernah sanggup kami pahami. Kami hanya berdoa semoga engkau akan menjadikan jiwa kami bahagia dan menanamkan pengertian mulia pada pikiran kami tentang makna derita yang kami tapaki."
  Dengan hati tersaput rasa iba, diucapkannya sesuatu, "Di antara semua kehidupan, kehidupanlah yang lebih tua. Keindahan telah meriasi dirinya sebelum ditebarkan di muka bumi ini. Kebenaran telah diajarkan hakikatnya sebelum berhasil diungkapkan. Dalam kesunyianlah kehidupan berdendang dan dalam tidur yang lelaplah impian berkumandang. Di saat kita pun sedang terjungkal dalam lemah dan nista, kehidupan pun telah berdiri dengan mulia dan bersahaja. Kehidupan tetap tersenyum sepanjang waktu justru di saat kita mengalirkan air mata. Kehidupan tetaplah berkelindan bebas sekalipun kita terkurung dalam penjara.
  Tetapi kita senantiasa menyalahkan kehidupan dengan suara-suara sumbang, yang dilakukan manakala kita tengah dihimpit nestapa dan gulita. Kita melecehkan kehidupan sebagai yang nihil dan tak berpengharapan, Yang dilakukan manakala jiwa kita tengah nelanggut dalam petualangan panjang di padang sunyi kerontang yang sangat jauh membentang. Sesungguhnya kita sedang mabuk oleh egoisme kita sendiri. Sementara kehidupan itu sangat jauh, dalam dan mulia, dan hanya tatapanmu yang merentang luas yang sanggup menjamah kaki-kakinya. Tetapi kehidupan tetaplah dekat. Bayangan demi bayanganmu tetap melintas di sanubarinya kendati desah jantungmu dapat mengelupasi hatinya. Gelegar jeritanmu tetaplah menjadi semi dan gugur dalam hatimu sendiri.
  Kehidupan tersimpan dan tersembunyi, sekalipun dirimu sedang tersimpan dan tersembunyi. Selaksa desau angin akan menjelma kata-kata manakala kehidupan berbisik. Semua kuluman senyum dan lelehan air matamu pun akan menjadi kata-kata ketika kehidupan kembali bertutur. Siapa pun akan mampu menangkap dan menanamkan suaranya manakala kehidupan mulai menembang. Manusia yang buta pun akan mampu melihatnya untuk kemudian mengiringinya dengan penuh kagum dan heran manakala kehidupan mulai melangkah mendekatinya."
  Kesunyian serta-merta menangkupi hati dan jiwa mereka ketika Al-Mustafa menghentikan suaranya. Di balik kesunyian, terkumandang tembang tanpa irama, yang sanggup menggiring mereka memasuki kebahagiaan dalam kesepian dan kenestapaan. (Kahlil Gibran)

No comments:

Post a Comment