Friday, May 7, 2010

Hikayat Al-Mustafa (Bagian Kelima)

  Seorang perempuan tiba-tiba muncul di pintu gerbang taman ketika mereka tengah berjalan-jalan. Perempuan itulah yang bernama Karima yang teramat sangat dicintai Al-Mustafa. Dia menganggap Karima sebagai saudara perempuannya sendiri semenjak masih kanak-kanak. Karima hanya mematung tanpa menelurkan sebutir suara pun atau sekedar mengetuk pintu gerbang itu. Matanya menyorot ke arah taman itu dengan panorama yang sangat sarat oleh kerinduan dan kenestapaan.
  Buru-buru Al-Mustafa yang mampu menangkap geraian impian yang tersimpan di balik bola mata Karima melangkah ke arah dinding taman dan membukakan gerbangnya. Karima memasuki taman dengan sambutan yang mesra. Karima berkata, "Untuk apakah gerangan engkau menghindari kami sehingga kami tidak lagi bisa tenggelam dalam pancaran sinar romanmu? Ketahuilah, telah sekian tahun kami yang mencintaimu menunggu kedatanganmu dengan penuh kerinduan dan mengharapkanmu dalam keadaan sejahtera. Kini mereka semua sedang meratapimu dan sangat berhasrat untuk berbincang denganmu. Mereka memintaku untuk menemuimu, memohon agar engkau sudi menjumpai mereka, menuturkan kepada mereka semua tentang kebijakanmu, menguraikan penderitaan hati mereka yang remuk-redam serta memberi petunjuk pada kami yang masih saja selalu dilumuri kebusukan."
  Al-Mustafa menyahut sambil menatap Karima, "Sepanjang engkau belum menyebut semua manusia itu bijak, maka janganlah engkau mengataiku manusia bijak. Aku cumalah buah muda yang masih bergelantungan di rantingnya dan baru kemarin mencapai kematangannya. Dalam sinaran kebenaran, kita tidak bijak dan sekaligus tidak bodoh, karena itu jangan cerca diri kalian dengan sebutan bodoh. Kita semua adalah dedaunan hijau yang bertebaran di pohon kehidupan, sedangkan kehidupan itu sendiri berada jauh dari jangkauan kebijakan dan kebodohan.
  Apakah benar aku telah menghindarkan diri dari wajah kalian? Bukankah kalian juga menyadari betapa jarak tidak akan pernah ada sepanjang jiwa tidak lagi menghampar dalam impian? Jarak akan menjelma sehelai tembang dalam jiwa manakala jiwa telah menggelar jarak itu.
  Jarak yang menghampar antara engkau dan tetanggamu yang tak bersahaja akan terasa jauh lebih luas daripada jarak yang memisahkanmu dengan kekasihmu yang bersemayam di balik tujuh negeri dan tujuh samudera. Jarak tak akan tergelar dalam ingatan, kecuali dalam kekosonganlah terselip jurang perpisahan yang tak sanggup dijembatani oleh pendengaranmu atau pun penglihatanmu. Terdapat suatu jalur rahasia yang harus engkau tempuh sebelum engkau lebur dalam anak-anak bumi yang terletak di antara pantai dan puncak gunung tertinggi. Terdapat sebuah jalan rahasia di antara pengetahuan dan pengertianmu yang harus engkau belah sebelum engkau merasuk bersama manusia untuk kemudian kembali menyatu dengan dirimu sendiri.
  Terbentang jarak yang sangat luas antara tangan kanan yang engkau pergunakan untuk memberi dengan tangan kiri yang engkau pergunakan untuk menerima. Engkau hanya akan bisa menghancurkan jarak itu sewaktu engkau sanggup menganggap tangan kanan dan tangan kirimu sebagai pemberi dan penerima. Hanya melalui pemahamanlah engkau tidak akan lagi memiliki sesuatu pun untuk engkau berikan atau sesuatu pun untuk engkau terima.
  Ketahuilah, Karima, jarak yang paling jauh sebenarnya adalah apa yang terhampar antara penglihatan kita di kala tidur dan di kala jaga, serta antara penerapaan dang angan-angan. Sebelum menyatu ke tubuh kehidupan, Sungguh masih sangat banyak lorong yang harus engkau tapaki. Namun, maafkanlah, lorong-lorong itu tak akan kututurkan saat ini lantaran ku tahu kalian semua masih sangat kelelahan akibat jauhnya perjalanan yang kalian tempuh."
(Kahlil Gibran)
  

No comments:

Post a Comment