Thursday, May 27, 2010

Hikayat Al-Mustafa (Bagian Kesembilan)

  
  Al-Mustafa dengan diiringi sembilan muridnya berjalan memasuki bangunan yang teronggok di taman itu dan mengelilingi nyala perapian. Badai dahsyat menerjang taman itu di waktu senja begini. Semuanya bungkam dalam kebisuan.
  Salah seorang muridnya tiba-tiba bersuara, "Guru, aku hanyalah sebatangkara. Sementara derap langkah waktu begitu perkasa menggetarkan jantungku." 
  Melalui suaranya yang bergemelisir layaknya angin, Al-Mustafa bangkit dan berdiri di tengah-tengah muridnya, "Apa yang engkau maksud dengan sebatangkara?" tegasnya. "Engkau datang seorang diri dan melintasi kabut seorang diri pula. Maka minumlah isi pialamu sendiri dalam bisunya kesenyapan lantaran hari-hari di musim gugur telah memunculkan bibir-bibir lain yang memiliki piala-piala lain dan menuanginya dengan anggur yang semanis madu. Begitu jugalah yang mereka isikan ke dalam pialamu. Teguklah sendiri isi pialamu sekalipun terasa menelan darah dan airmata kesengsaraan. Bersyukurlah pada kehidupan yang telah menganugerahi rasa haus. Hatimu akan seperti tepian pantai dari sebuah samudera yang tak memiliki gelombang, tak menyimpan gemuruh dan tak mengerami pasang-surut bila engkau tak memiliki rasa haus.
  Reguklah isi pialamu sendiri sambil memekik gembira. Junjunglah pialamu di atas kepalamu lalu reguklah kuat-kuat demi mereka yang meminumnya dalam kesendirian. Aku pernah suatu kali mencari gerombolan manusia yang kemudian duduk rapi mengelilingi meja jamuan sebuah pesta kemudian minum dengan sepuas-puasnya. Namun mereka tidak mengangkat anggurnya di atas kepalaku, tidak pula meresapkannya ke dalam dadaku. Mereka hanya membasahi kakiku. Kebijakanku masih kerontang. Hatiku terkunci dan terpatri. Cuma sepasang kakikulah yang bergumul dengan mereka di antara selubung kabut yang buram.
  Aku tidak mau lagi mencari kumpulan manusia atau pula mereguk anggur bersama mereka dalam meja jamuan pesta mereka. Apa yang engkau rasakan jika kututurkan padamu semua itu kendati waktu begitu garang menghentaki jantungmu? Akan sangat baik bagimu bila engkau mereguk piala rengsamu seorang diri dan piala bahagiamu seorang diri pula."
(Kahlil Gibran)

No comments:

Post a Comment